Cari Karya

Kamis, 18 Februari 2021

Road to Bright Scholarship #2 (Tips Lolos BS)

Berikut ini tips lolos beasiswa Bright Scholarship versi aku:

1. Niat karena Allah

Yap. Luruskan lagi niatnya. Jangan semata-mata karena uang. Jika kita sudah niatkan semua karena Allah, insyaallah Yang Maha Kaya akan memberikan rezeki tidak hanya dari beasiswa aja kok! Percaya deh. Tiap kejadian ada hikmah yang menanti untuk dipetik bagi hambanya yang mengetahui (cerdas).Yuk kita renungkan lagi langkah-langkah kita untuk kebaikan atau hanya duniawi semata.

2. Minta restu dan doa orang tua

Poin ini kadang kita lupakan. Namun, hal ini harus tetap dilakukan bagiku sebagai bentuk ikhtiar. Apalagi, ridho orang tua ridho Allah juga kan? Jadi tidak mungkin kulewatkan momen penting seperti mendaftar beasiswa tanpa restu mereka.

3. Berpikir positif

Aku pernah mengikuti pelatihan NLP yang salah satu bahasannya menjelaskan  pentingnya hal ini. Dalam banyak kondisi mungkin sadar atau tidak sadar kita merasakan efek dari berpikir positif. Hal ini juga berlaku dalam mendaftar beasiswa. Jauhkan pikiran-pikiran seperti “kayaknya enggak mungkin lolos deh”, “masa sih gua bisa lolos”, dll. Jangan! Hal itu akan berpengaruh terhadap progres kita dalam mempersiapkan pendaftaran beasiswa. Jadi, semangat! Potensi kita begitu berharga loh jika kita mau melihatnya.

4. Persiapkan jauh-jauh hari

Kabar kurang baik untuk kaum deadliners. Karena berdasarkan pengalamanku, ada satu beasiswa (beasiswa KSE), yang sangat sulit diakses website pendaftarannya. Sampai aku menyerah (apalagi rumahku akses internetnya kurang memadai). Hal-hal seperti ini bisa dicegah jika mendaftar dari jauh-jauh hari bukan?

5. Buat folder gdrive berisi scan dokumen penting

Kondisi yang serba daring menuntut pendaftaran beasiswa pun juga serba daring. Kalau dulu aku perlu menyiapkan fotokopi dokumen sebanyak mungkin, hal itu sudah tidak berlaku lagi. Kegunaannya apa membuat folder seperti itu? Hal ini akan memudahkan tiap mendaftar beasiswa. Tidak hanya beasiswa bahkan, pendaftaran apa pun itu akan terbantu karena membuat folder khusus ini. Apalagi jika kita mengetahui infonya mepet-mepet tenggat waktu pendaftaran. Kita tidak perlu repot-repot scan dokumen lagi.

6. Buat esai yang spesifik

Tidak jarang, beasiswa mensyaratkan esai sebagai salah satu cara menyeleksi pendaftar. Tema yang diberikan pun biasanya umum. Untuk beasiswa Bright Scholarship, tema esainya adalah “Aku untuk Indonesia”. Sangat umum bukan? Aku pun berpikir kontribusi apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia? Akhirnya aku mengambil judul “Aku, Literasi, dan Indonesia”. Esai tersebut menjelaskan tentang kontribusiku terhadap Indonesia melalui literasi. Kunci membuat esai yakni spesifik. Hal tersebut yang akan membedakan kita dari pendaftar yang lain.

Oh iya, aku buka mentorship esai loh. Tidak hanya esai beasiswa saja, tapi juga esai ajang duta, PTN, organisasi, dll. Infonya ada di akhir tulisan ini ya! Terima kasih.

7. Teliti sebelum mengirim berkas

Manfaat besar yang didapatkan penerima beasiswa tentu sebanding dengan pemberkasan yang merepotkan. Jadi perhatikan baik-baik, apakah semua berkas sudah lengkap? Cek lagi dari akun atau website resmi penyelenggara beasiswa. Jangan segan bertanya kepada narahubung beasiswa tersebut jika ada syarat yang membingungkan. Atau kamu bisa bertanya kepada orang yang pernah lolos beasiswa tersebut. Sekaligus, bisa minta tips dan trik lolos tentu saja.

8. Berlatih menjawab pertanyaan wawancara

Saat SMA tiap kali wawancara, aku tidak pernah absen mengunjungi situs tentang pertanyaan yang sering diajukan saat wawancara. Menurutku itu penting untuk mengurangi filler word. Apa itu? Filler word adalah sebuah kata yang diucapkan seseorang sebagai jeda untuk berpikir atau ketika orang tersebut ragu-ragu ketika berbicara (natakomunikasi.com). Contohnya seperti “hmm”, “eee”, dll. Akan lebih baik jika kamu merekam diri sendiri dalam menjawab pertanyaan. Perhatikan berapa filler word yang keluar dan gestur kamu. Ulangi terus untuk mengurangi filler word dan memperbaiki gestur. Fyi, aku juga kadang mengucapkan filler word kok. Jadi, semangat ya! Aku juga masih perlu banyak belajar dalam hal public speaking, hehe.

9. Kuasai berkas, potensimu, dan instansi pemberi beasiswa

Poin ini tidak kalah penting saat wawancara. Jangan sampai kita terlihat tidak memahami berkas yang kita kirim sendiri. Baca kembali CV, esai, dan berkas lain yang dikirim.  Potensi yang kita miliki juga harus dipahami betul. Ingat, tiap kita memiliki potensi jika mau melihatnya. Perhatikan juga hal yang instansi butuhkan. Usahakan tiap menjawab pertanyaan seakan-akan kamu adalah solusi dari masalah mereka. Kunjungi website dan Instagram instansi untuk memahami visi, misi, dan hal-hal yang mereka jalankan. Akan sangat memudahkan untuk menjawab pertanyaan pewawancara jika visi dan misi kamu sejalan dengan instansi. Jika tidak, mulai pikirkan kemungkinan jawaban yang bisa diberikan dari potensi yang kamu miliki. Kuncinya tetap tenang saat menjawab pertanyaan yang sekiranya di luar ekspektasi. Tiap gestur akan sangat terlihat jika kita seperti tidak siap.

10. Gestur dan penampilan juga penting

Sempat disinggung di dua poin sebelumnya tentang gestur. Yap, begitu pentingnya gestur karena saat kita tidak percaya diri gestur yang terlihat akan berbeda. Tersenyum akan membantu kita lebih percaya diri dan terlihat ramah di mata pewawancara. Jangan menunduk atau menyilangkan kaki dan tangan. Badan tegap dan kepala tegak lurus. Berikan eye contact pada pewawancara. Kamu bisa menyiasati melihat keningnya jika takut melihat mata mereka. Tunjukkan attitude yang baik saat masuk dan keluar ruangan, seperti ketuk pintu, salam, dll. Kenakan pakaian yang terlihat profesional, minimal sopan dan tidak terlalu terbuka. Jangan menggunakan make up yang terlalu tebal yang penting terlihat segar dan tidak pucat.

11. Berikan closing statement terbaik

Sebelum selesai wawancara, biasanya pewawancara akan bertanya “Ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan?”. Manfaatkan kesempatan ini untuk bertanya yang ingin kamu tanyakan soal beasiswa. Dan... kamu bisa memberikan closing statement yang meyakinkan seperti “Terima kasih sebelumnya kepada (sebutkan nama dan jabatannya jika tahu, jika tidak kamu cukup menyebutkan pewawancara) atas kesempatannya...”. Selanjutnya, kamu bisa meyakinkan mereka bahwa kamu adalah kandidat yang tepat untuk menerima beasiswa. Sebutkan lagi potensi yang kamu miliki dan bisa diberikan kepada instansi. Jelaskan juga bahwa kamu sangat membutuhkan beasiswa ini dan apa yang akan kamu gunakan dengan beasiswa ini secara singkat.

12. Berdoa

Yap. Ikhtiar kamu sudah selesai. Selanjutnya perbanyak berdoa dan biarkan Allah yang menentukan keputusan terbaik-Nya. Ingat, tidak lolos bukan berarti gagal. Allah mempersiapkan yang terbaik bagi tiap hamba-Nya. Aku bersyukur karena sudah sekitar tujuh beasiswa gagal. Kenapa? Karena beasiswa yang kuterima tidak hanya mendapatkan uang saku tapi juga pembinaan tahfidz, tahsin, prestasi, dll. Pembinaan seperti ini yang jarang kutemui di beasiswa lain.

13. Evaluasi

Yuk dilihat lagi kesalahan kita apa (sekalipun lolos). Biasanya kesalahan terbanyak di wawancara (kalo aku sih begitu, hehe). Evaluasi itu nantinya akan memudahkan kita jika harus wawancara lagi atau mendaftar beasiswa lagi. Ketika kamu membaca ini, kamu sudah selangkah lebih maju dibanding pendaftar beasiswa yang lain. Jadi, semangat! Potensi kamu begitu berharga untuk digali dan diperdalam.

Info Mentorship Esai

Wah enggak nyangka banget bisa sampai 13 tips yang aku berikan. Semoga membantu ya, pejuang beasiswa! Oh iya, seperti yang aku jelaskan sebelumnya bahwa aku buka mentorship esai nih. Mentorship esai yang aku tawarkan, yakni: beasiswa, ajang duta, PTN, dan organisasi atau komunitas. Simak dulu ya kenapa kamu harus ikut mentorship ini?!

  1. Berpengalaman menulis lebih dari 25 esai (beasiswa, ajang duta, PTN, organisasi, program ke LN, lomba, sastra, dll).
  2. Berpengalaman di bidang literasi lebih dari 4 tahun.
  3. Lolos seleksi esai beasiswa Bright Scholarship 2020.
  4. Lolos seleksi esai program International Scholarship Workshop 2019 ke Malaysia.
  5. Lolos seleksi esai Duta Bahasa Pelajar Jawa Barat 2018.
  6. Lolos seleksi portofolio jurusan D3 Penerbitan Polimedia Kreatif Jakarta jalur PMDK-PN 2019.
  7. Lolos seleksi esai BEM Prodi Pendidikan Bahasa Arab UNJ 2020.

Sudah enggak ragu lagi kan? Yuk, ikut mentorship esai bareng aku. Informasi lebih lanjut silakan DM ke Instagram @firdasmanad.

Rabu, 17 Februari 2021

Road to Bright Scholarship #1

Perjalanan itu kumulai sejak akhir tahun 2018. Hari itu tidak ada yang aneh, seperti kebanyakan remaja aku sedang asyik bersenda gurau dengan teman-temanku. Beberapa mulai terpecah dengan topik masing-masing. Menyisakan aku dan salah satu temanku yang saling membisu. Tanpa aba-aba, ia menyodorkanku pengumuman untuk mengikuti salah satu seleksi beasiswa. Awalnya aku ragu, karena kampus yang dituju merupakan PTS prestisius. Apalagi, rekam jejak akademik diri ini tidak sebagus temanku. Namun, tekad temanku yang begitu menggebu meyakinkan diri untuk mau mencoba hal baru.

Dan perjalanan itu terus berlanjut sepanjang tahun 2019. Aku melampiaskan kegagalan di PDSS dengan mendaftar banyak beasiswa. Mengesampingkan sedikit ego untuk cadangan jika saja jurusan yang kuidamkan menolak di SBMPTN atau jalur mandiri. Nihil hasilnya. Sampai pengumuman SBMPTN perjalanan seleksiku hanya sampai di tahap wawancara bahkan tes tulis. Beruntungnya aku lolos di pilihan kedua SBMPTN.

Kau tahu apa yang paling kutakutkan saat diizinkan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dibanding orang tua? Pertama, aku takut mengecewakan mereka. Aku merasa gagal jika gelar sarjana ini hanya sebatas gelar. Kedua, aku anak pertama. Sudah menjadi aturan tidak tertulis sebagai seorang sulung untuk bisa membantu orang tua dalam meringankan biaya pendidikan adik-adiknya. Aku takut. Perjalananku mengenyam pendidikan di kampus terhenti karena uang. Dan bayangan itu seketika menghampiri di semester 2. Lebih cepat dari dugaanku. Benar-benar tidak kusangka.

Awalnya aku merasa aman karena saat pengumuman UKT baik umi atau abi tidak keberatan dengan nominal yang tertera. Namun Allah Maha Baik karena masih memberi kami cobaan di awal tahun dengan mendatangkan banjir. Aku rasa tidak perlu disebutkan seberapa besar kerugiannya, tapi akibatnya aku baru sanggup membayar UKT di detik-detik setelah masa perpanjangan bayar UKT.

Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu. Apalagi Allah menguji kami lagi dengan kepergian nenek dari umi. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok wanita yang begitu tegar kini menangis di rumah almarhumah. Abi menggandeng tangan umi mesra. Perjalanan Bekasi-Kebumen tidak mampu menahan sanak saudara untuk mengubur nenek yang sering kusapa “simbah”. Aku tidak kuat. Namun air mata ini baru tumpah ketika melihat kuburan nenek dan kakek berdampingan keesokan harinya.

Belum selesai, perjalanan yang tidak gratis dan penuh pilu itu harus dibayar dengan panggilan dari advokasi prodi. Mereka khawatir aku tidak bisa membayar sampai waktu yang ditentukan saat itu. Singkat cerita diri ini pergi ke bank dengan uang yang mungkin orang tuaku pinjam entah dari saudara yang mana. Sungguh, sangat tidak rela membayar uang sebegitu banyak demi pendidikanku saja. Sedangkan, usaha orang tua kalang kabut dan harus mulai dari nol sejak banjir awal tahun.

Maret hingga April, aku mendapatkan tiga info beasiswa. Segera, aku mendaftar ketiganya. Ah tidak, salah satu beasiswa tidak sanggup kuselesaikan pendaftarannya karena syarat yang rumit dan tenggat waktu pendaftaran yang mepet. Alhamdulillah, kedua beasiswa yang kuperjuangkan lolos seleksi administrasi.

Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Satu beasiswa kandas di tahap akhir yaitu wawancara. Sempat pupus harapan, aku berusaha untuk tetap semangat menghadapi wawancara di beasiswa terakhir. Namun aku tidak lagi banyak berharap. Mengingat, sudah sekitar tujuh beasiswa kudaftarkan kandas di tahap wawancara bahkan administrasi.

Tanggal 23 Mei 2020 menjadi hari bersejarah bagiku. Karena Alhamdulillah, aku lolos Smart Scholarship! Ya beasiswa terakhir yang kuperjuangkan. Saat itu, aku sampai histeris mengetahui info tersebut. Awalnya aku begitu pesimis. Sainganku hampir 300 mahasiswa UNJ ditambah yang memiliki hafalan akan diprioritaskan. Apa dayaku ini yang saat itu tidak memiliki pun 1 juz hafalan. Dari sana perjuangan belum sepenuhnya selesai, mengingat masih ada Bright Scholarship yang harus dicoba. Siapa tahu, kesempatanku di sini? Tidak ada yang tahu.

Manfaat yang kudapatkan berupa uang saku sebesar 500 ribu sebulan dan pembinaan pengembangan diri. Ah iya, dan relasi sebenarnya. Tapi sayang poin itu kurang terasa karena pembinaan virtual sehingga minim interaksi. Membayangkan memiliki puluhan teman baru di antara 100 orang penerima Smart Scholarship. Pasti sangat seru.

Seleksi Bright Scholarship dimulai akhir Agustus. Beberapa hari setelah insiden handphone milikku hilang di kereta arah Depok. Aku mengurus segala pemberkasan melalui handphone adikku. Semua berkas harus kufoto ulang karena semuanya tersimpan di galeri lama. Bahkan aku mengetahui infonya sedikit terlambat dibanding teman-teman yang lain. Aku juga bertanya kepada beberapa temanku sesama awardee Smart Scholarship.

Perjuangan tetap perjuangan. Belum lagi esai dengan minimal 1000 kata. Hal itu menjadikannya rekor esai terpanjang yang pernah kubuat. Semua berkas berhasil kukirim di detik-detik tenggat waktu. Sempat pesimis. Karena persiapan yang kulakukan tidak semaksimal Smart Scholarship. Terlebih, sainganku adalah sesama awardee yang pastinya merupakan orang-orang hebat karena berhasil lolos dan menerima beasiswa tersebut.

Wawancara lagi. Aku fokus memahami esaiku. Ya, tulisan abstrakku yang lebih banyak bualannya dibandingkan visi misi untuk kemajuan Indonesia. Sesekali aku merutuki diri ini. Apa yang kutulis ini, hah?!

Hari wawancara aku mempersiapkan sematang mungkin Harus tampil segar dan berusaha lebih cantik dari biasanya. Aku bahkan sedikit merias diri. Entah kenapa membuatku lebih percaya diri menghadapi wawancara. Saat giliran, aku gemetar bukan main. Blank aku rasa. Tapi kuusir pikiran itu jauh-jauh. Berpikir itu hanya asumsi saja. Semua pikiran masih ada di celah otak entah di bagian mana.

Pikiran-pikiran positif itu membantu banyak saat wawancara berlangsung. Meski lagi-lagi, aku sempat down saat ditanya hafalan yang dimiliki. Aku berusaha menjawab sebaik mungkin dengan mengatakan akan berusaha menambah hafalan jika diterima. Sisanya sedikit cemas, berusaha tetap menjawab tiap pertanyaan seprofesional mungkin. Walau tetap masih ada yang harus dievaluasi dari wawancara tersebut. Ya, aku sudah mencoba semaksimal mungkin paling tidak. Allah yang akan menyelesaikan akhirnya akan seperti apa.

Alhamdulillah kali ini Allah memberikanku kesempatan untuk berkembang bersama 11 orang hebat lainnya. Berasrama dan belajar banyak hal sembari tidak melupakan kewajiban berkuliah. Jika dipikir-pikir, seperti tidak mungkin. Tapi jika Allah sudah berkehendak segalanya menjadi mungkin dalam sekejap. Manfaat yang kuterima berupa uang saku sekitar 900 ribu dan pembinaan rutin. Ada begitu banyak pembinaan, mulai dari tahfidz, tahsin, prestasi, dll.

Wah, pasti pada enggak sabar ya sama tips lolos beasiswa Bright Scholarship? Simak di unggahan selanjutnya ya, hehe. Karena sudah terlalu panjang nih. Terima kasih telah membaca sampai akhir. Jangan lupa dukung aku dengan berlangganan blog ini dan follow Instagram @firdasmanad ya.

Jumat, 09 Oktober 2020

Sejarah Komunitas Novelis Muda

Saat itu hari tenang di bulan Maret. Membuat komunitas sudah menjadi impianku beberapa bulan lalu. Apalagi, melihat begitu banyaknya sosok-sosok hebat yang menjadi pembicara tidak luput dari titel pendiri komunitas tertentu. Agak sulit mengawali kisah hari itu sebenarnya, namun ini ‘lah kisah perjalananku hingga saat ini.

Aku lupa tanggal berapa, tapi rasanya sangat damai karena semua tugas dari dosen sudah kukerjakan. Pada bulan-bulan itu pula aku asyik meramaikan Instagram dengan beberapa penggalan kalimat bertajuk #QuoteFirdasmanad di instastory. Sempat beberapa kali aku menggamit akun-akun Wattpad untuk menarik atensi. Sampai pada tanggal 15 Maret 2020, salah satu admin akun tersebut membuat grup di Instagram hanya untuk mempromosikan laman Facebook mereka.

Setelah hari itu, grup diisi dengan saling mempromosikan cerita masing-masing. Admin sudah tidak pernah muncul. Beberapa orang berusaha meramaikan grup tersebut. Aku acuh tak acuh karena menyibukkan diri dengan memperbaharui bab-bab ceritaku di Wattpad. Entah kapan, beberapa di antara kami ada yang mengusulkan untuk membuat grup di WhatsApp. Aku yang mendengar usul pun setuju saja. Berhubung, aku juga sudah lama tidak kembali ke dunia oranye. Pasti ada hal-hal yang berbeda dengan wajah baru Wattpad beberapa tahun terakhir. Setidaknya muncul pula relasi yang bisa saling membantu.

Namun, hanya inisiasi tanpa ada aksi. Aku yang gemas melihat hal tersebut, memutuskan untuk membuat grup dan membagikan link ke grup Instagram kami. Seketika banyak teman-teman dari langit oranye memasuki grup tersebut. Seingatku, 20 orang lebih pada hari pembentukkannya, 21 April 2020. Sampai hari ini, satu dua orang silih berganti datang dan pergi dengan kesibukannya masing-masing. Hanya tersisa beberapa teman dekatku saat SMA dan teman baru.

Bagian paling menyedihkan adalah ketika melihat anggota grup lebih seing berkurang daripada bertambah. Aku yakin itu semua keniscayaan, memang seperti itu kehidupan adanya. Hanya orang-orang yang satu frekuensi yang akan bertahan. Sebagai pembuat grup, aku juga tidak pernah memaksa mereka bertahan, sejatinya hal yang dipaksakan pun tidak pernah bertahan lama. Ya mungkin, bisa bertahan beberapa bulan, setelah itu akan lepas jua.

Sekalipun terkesan suram, aku yakin kisah haru ini akan menjadi cerita tersendiri ketika komunitas ini berkembang. Oh iya, pada tanggal 4 Mei 2020, nama “Komunitas Novelis Muda” resmi disetujui oleh seluruh anggota saat itu. Jujur, aku tidak pernah membayangkan akan mengawali cita-citaku sedini itu. Karena aku tahu pasti, tahun-tahun awal sebuah wadah merupakan tahun yang berat. Impian mulia itu pernah kutulis dalam “My Dream List” beberapa hari setelah ospek kampus. Sejak awal nama komunitas itu sudah kutulis seraya bergetar jari jemari dan hatiku. Aku bahkan sudah membayangkan kegiatan-kegiatan interaktif untuk memaksimalkan performa anggota. Manis, begitu pikirku saat itu.

Dan perjalanan tetaplah sebuah perjalanan. Kisah kami belum selesai. Sebagai pendiri komunitas, aku yakin memiliki orang-orang hebat yang siap “belajar” untuk membangun komunitas kecil kami. Anggota yang sedikit bukan tolak ukur kesuksesan komunitas bukan? Menurutku hasil dari anggotanya itu sendiri yang akan menjadi prestasi sebuah komunitas.

Apakah setelah setahun di sana ada perkembangan dari pribadi masing-masing? Tidak harus dalam setahun bisa menerbitkan buku. Lagi-lagi hal tersebut hakikat dari proses. Setiap orang punya prosesnya masing-masing. Aku sendiri baru sanggup menerbitkan novel pertamaku setelah setahun lebih perjuangan dan penantian. Belum lagi jauh sebelum itu aku juga berusaha menambah ilmu dari kelas-kelas menulis daring dan mengikuti lomba-lomba. Hal tersebut juga tidak lepas dari “proses”.

Saat ini kami sedang menyusun konsep dari rekutmen terbuka anggota. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan pastinya, ditambah kesibukan masing-masing. Harapanku, konsep yang sedang kami rancang bisa segera terealisasikan di awal 2021. Jangan lupa daftar ya! Oh iya, jika kamu ingin tergabung sebagai pengurus dan bukan anggota bisa hubungi aku ya di @firdasmanad atau @knm_id di Instagram. Sampai jumpa di grup besar KNM dan blog Firdasmanad selanjutnya!!

Senin, 27 Juli 2020

Blurb (Sinopsis) Novel "Abu Mimpi"

Assalamu'alaikum, gaes. Kembali lagi bersama Firdasmanad, blogger abal-abal yang ngepos semaunya kapan aja 🤭. Ok, seperti judulnya, di sini aku mau jelasin isi blurb novel perdanaku! 🎉

Sebelum masuk ke blurb, kita lihat ini dulu yuk. Jeng jeng jenggg 😁


Open PO Novel "Abu Mimpi"

Yak, apalagi kalo bukan flyer open PO, hehehe. Kuy lah, diorder. Cuma sampai 30 Juli 2020. Awas, nyesel selalu datang di akhir loh. Eits, tapi tenang. Buat kamu yang baru baca info ini bulan Agustus 2020, ditunggu ya, karena aku bakal ngadain open PO kedua!! 🎊. Yang kedua ini jangan sampai lepas lah pokoknya. Karena belum kepikiran buat open PO ketiga nih, hehehe.

Untuk info pemesanan, ada di akhir blog ini ya. Sebelum itu, simak blurb novel "Abu Mimpi", yuk!


Blurb Novel "Abu Mimpi"

Gagal tercipta karena hadirnya mimpi. Bukan mimpi besar layaknya orang-orang mahsyur. Hanya impian umum siswa tingkat akhir SMA sederajat. Lolos PTN. Terkhusus Fatma, melanjutkan pendidikan sesuai potensi diri tanpa membebankan orang tuanya. Hingga kisah kegagalan beruntun itu dimulai.

Pejuang impian. Berisi enam gadis SMA dengan kekonyolannya masing-masing. Apa yang mereka cita-citakan berbeda, tetapi usaha yang menyertai langkah manis mereka sama. Berbagai persiapan kuliah terukir manis dalam bingkai kisah remaja.

Dan laki-laki, tetap turut andil sebagai bumbu cerita. Perkenalkan, Ryan. Siswa kelas XII IPS 1 yang mampu mengoyak hati Fatma. Dengan segala pesona yang entah apa jenisnya, Fatma sering dibuat lupa akan hadirnya Allah.

Nah, gimana nih gaes blurb "Abu Mimpi" enggak kalah kece sama novel-novel yang mejeng di toko buku 'kan? Enggak pake lama, langsung aja order! 🤗

Info Pemesanan

Info pemesanan langsung aja DM @firdasmanad di Instagram atau 088808595228 (WhatsApp).

Ok, segitu aja dulu ya untuk blog kali ini. Ditunggu unggahanku selanjutnya 🙏🏼😁. Wassalamu'alaikum ✨

Jumat, 03 Juli 2020

Cara Membuat SIM C


Halo! Assalamu’alaikum semua. Kembali lagi di blog aku, Karya Firdasmanad! Kali ini aku bukan mau nulis cerpen, kisah islami, atau pengalaman pergi ke pameran buku. Apalagi, di situasi pandemi seperti sekarang yang mana semua pameran buku ganti konsep menjadi pameran buku daring alias online.

Jadi, di sini aku mau cerita tentang pengalamanku “Membuat SIM C”. Kebetulan, banyak juga nih yang penasaran. Gimana sih cara buat SIM C? Oh iya, aku mengikuti prosedur resmi, jadi buat yang berharap cara instan silakan cari di blog lain.

***

Sebelum masuk ke prosesnya, sedikit informasi bahwa aku melakukan rangkaian tahap pembuatan SIM ini di kantor Polres Metro Bekasi Kota dekat RSUD Bekasi pada bulan Juni 2020. Jadi, harap maklum misalkan ada perbedaan di wilayah kamu atau perbedaan peraturan saat kamu membuat SIM. Untuk informasi akurat, silakan kunjungi laman terpercaya atau ke kantor setempat. Karena, semua yang kutulis di sini, hanya berdasarkan pengalamanku di kantor tersebut saat itu.

Pertama yang harus kamu lakukan itu mendaftar. Iya, daftar dong. Daftarnya itu ke situs ini https://antrian.polrestrobekasikota.com/#!/.


Kamu bisa pilih nih mau ikut antrian pagi atau malam. Nah, setelah itu, kamu cukup isi form pendaftarannya. Dan, kamu bisa pilih tanggal kapan kamu mau ke sana. Setelah mendaftar, tampilannya akan seperti ini.


Di kolom kategori kamu pilih pemeriksaan kesehatan SIM baru. 


Pastikan kamu sudah sampai di tempat satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Oh iya, jangan lupa untuk mencetak atau print pdf tersebut dan simpan tangkapan layar atau screenshot yang terdapat tampilan QR Code. Jangan lupa pula untuk membawa KTP asli dan fotokopi KTP sebanyak 5-10 buah. 


***

Pada saat hari-H sesampainya di lokasi, kamu langsung pergi ke tempat pemeriksaan kesehatan. Di sana, kamu akan tes buta warna. Sebelum tes, kamu akan diminta berkas berupa pdf pendaftaran, satu fotokopi KTP, dan biaya tes kesehatan (25k). Oh iya, di setiap tahap pendaftaran, kamu akan diminta fotokopi KTP, jadi posisikan fotokopi KTP-mu mudah dijangkau.

Setelah itu, kamu pergi ke lokasi pembuatan SIM utama. Lokasinya sedikit jauh dari tempat pemeriksaan kesehatan. Sebelum masuk ruangan, kamu harus meletakkan KTP asli. Dan kamu akan diberikan semacam kalung ujian seperti saat kita dulu sekolah yang menandakan bahwa kita memang peserta tes SIM.

Lalu, kita akan diarahkan ke tempat pembayaran tes SIM. Pembayarannya berbeda-beda untuk: pembuatan SIM baru, perpanjangan, dan pembuatan SIM A maupun C. Semua berbeda. Biayanya berkisar 100-300k sudah dengan asuransi kecelakaan. Pada saat itu, aku mengantre cukup lama. Mungkin karena pekan pertama atau kedua diberlakukannya new normal.

Lanjut, sesampainya di loket kamu akan diminta membayar sesuai keperluan kamu dan fotokopi KTP. Jika sudah selesai, kamu akan diberi berkas SIM, kartu asuransi kecelakaan, dan kwitansi pembayaran. Berkas SIM itu terdiri dari berbagai kertas yang sudah distreples sejak dari tahap pemeriksaan kesehatan. Di berkas tersebut pula, kamu diminta untuk mengisi formulir.

Untuk mengisi formulir tersebut, dipersilakan untuk mengisi di tempat yang disediakan. Di tempat tersebut pula, ada pulpen yang bisa digunakan. Akan lebih mudah dan cepat jika kamu membawa pulpen sendiri. Panduan pengisian formulir juga dijelaskan di dinding dengan ukuran cukup besar. Kamu bisa mengisi di meja sembari berdiri dengan pulpen gratis atau mengisi di kursi yang disediakan dengan pulpen yang kamu bawa.

Setelah lengkap, kamu masuk ke ruangan lain di tempat tersebut untuk foto close up, tanda tangan, dan penyinkronan data dengan sidik jari. Pada saat itu, aku juga harus mengantre meskipun tidak sepanjang antrean pembayaran. Seperti biasa kamu akan diminta menyerahkan berkas SIM dan akan dikembalikan setelah proses selesai.

Kemudian, kamu harus menyerahkan berkas SIM ke penjaga ruang tes teori tidak jauh dari ruang tersebut. Setelah sesi sebelumnya selesai semua, kamu akan dipanggil beserta rombonganmu untuk melakukan tes teori dengan menggunakan komputer yang disediakan. Kita akan diberi arahan yang menjelaskan teknis pengerjaan soal tersebut.

Teknisnya yakni, soal yang diberikan berjumlah 30 soal dengan pilihan jawaban hanya benar atau salah. Waktu pengerjaan 1 menit per soal dengan soal berbentuk teks, audio, dan visual. Minimal jawaban benar yakni 21 soal. Saat itu, aku benar 22 soal jadi lanjut ke tes praktik. Di dalam ruangan, disediakan headphone untuk mendengar soal audio. Jika sudah selesai, kita bisa langsung keluar untuk lanjut ke tahap tes praktik. Jika belum lolos, harus mengulang tes minggu depan.

Sebelum tes praktik, jangan lupa untuk mengambil kembali berkas SIM dan pergi ke ruang tunggu tes praktik. Di ruang tunggu, kamu pergi ke meja yang ada petugasnya dan menyerahkan berkas SIM. Di sana, kamu harus mengisi beberapa data. Kamu juga akan ditanya motor apa yang akan kamu gunakan dengan pilihan matic atau gigi dan mengisi data di buku yang disediakan.

Saat namamu dipanggil, kamu akan diarahkan untuk ke ruang tes praktik. Alur jalan yang harus dilalui seukuran lapangan voli dengan beberapa model belokan. Peraturan pada saat tes praktik yakni, dilarang menjatuhkan patok dan menurunkan kaki sama sekali. Sedikit informasi alur jalan yang harus dilewati yaitu, jalan lurus, belok kanan, lurus lagi, huruf U, dan angka 8. Setiap patok berjarak sekitar 50 cm±.

Percobaan pertama aku gagal di angka 8 persis di tengah-tengah membentuk angka 8. Karena gagal, aku harus mengulang minggu depan. Seperti peserta lain yang gagal di tahap tes teori atau praktik wajib untuk datang kembali minggu depan pada pukul 8-9 pagi.

***

Seminggu setelahnya aku tes ulang bersama rombongan yang juga pernah gagal. Sebelumnya, aku juga sudah latihan bersama ayahku. Ia memberikan beberapa tips lolos tes praktik SIM C. Pertama, saat belokan tajam, usahakan untuk mengarahkan motor ke ujung garis pembatas antara dua patok. Sehingga, saat membelok akan lebih mudah dan kecil kemungkinan untuk menjatuhkan patok atau menurunkan kaki (ini tuh karena bakal banyak jalan buat gerak gitu loh). Kedua, saat latihan bentuk angka 8 sekecil mungkin di lapangan tanpa menurunkan kaki. Ketiga, lakukan tips kedua berulang-ulang sampai percaya diri. Keempat, lakukan tips pertama saat di tempat tes praktik.

Setelah itu, kamu cukup menunggu SIM jadi di ruang tunggu. Selesai. Semoga beruntung dan semoga pengalamanku ini bermanfaat bagi kamu yang ingin membuat SIM C. Jika masih ada yang ingin ditanyakan silakan bertanya di instagramku @firdasmanad.

Senin, 06 April 2020

720 Menit

28 Februari 2020. Lina masih tidak percaya bahwa besok ia didiagnosis akan meninggal. Beberapa kali yang Lina lakukan hanya sholat sembari menangis tiada henti di ranjang rumah sakit. Bahkan, untuk berhenti melakukan sholat saja rasanya berat sekali. Seakan-akan, jika ia berhenti sholat, maka neraka sudah menanti.

Keluarganya berusaha menenangkan Lina, tapi ia tetap ketakutan dan berbagai rasa khawatir lainnya. Lina mengusir keluarganya untuk meninggalkannya sendirian bahkan guru ngajinya juga ia usir. Tidak ada yang mampu mengusiknya sampai kantuk menyergap.

Dan keajaiban datang di hari kabisat usai sholat Dhuha, Lina kedatangan tamu.

“Assalamu’alaikum.” Sapanya sembari mengetuk pintu.

“Wa’alaikumussalam. Siapa?”

“Ini aku, Dika. Kau ingat?”

Lina tercengang. Pria yang ia idamkan saat SMA kembali hadir di detik-detik akhir hidupnya. Untuk apa? Bahkan, komunikasi sudah sangat jarang. Terakhir, saat Dika bertanya nasib ijazahnya karena mendengar kabar sekolah kami kebanjiran.
Itu sudah hampir setahun yang lalu. Sisanya hanya saling berkomentar di media sosial. Tidak lebih.

“Lina, boleh aku masuk?” tanya Dika.
Lina sampai lupa ada sosok yang menunggu pernyataannya.

“I..iya Dika, masuk aja.” Jawab Lina sedikit malu.

Dika datang membawa sebuah novel tentang ganjil-genap. Tidak penting memang. Apalagi jika melihat situasi saat ini. Tapi penulisnya merupakan salah satu penulis favorit Lina. Lain cerita.

“Aku akan memberikan 720 menit terbaik dalam hidupmu.” Ucapnya.

“Untuk apa? Aku akan meninggal hari ini.” Sergah Lina.

“Tapi bukan sekarang. Ikut aku, kita ke pameran buku, lalu sholat Dzuhur di sana, dan dilanjutkan dengan makan siang. Sembari menunggu ashar, kita akan menikmati es krim. Setelah ashar, kita akan menuju Kota Tua dan menikmati berbagai hiburan di sana. Tidak lupa sholat lagi dan makan malam tentunya. Lantas, kita kembali ke sini. Sambil,... aku bacakan isi buku ini.” Jawab Dika sembari memperlihatkan bukunya.

Lina sedikit menjerit. Jauh sebelum ia terbaring di sini, begitu menggilanya dia untuk bisa mendapatkan buku tersebut. Kali ini ada di depan pandangannya.

Namun, lagi-lagi Lina khawatir tentang amalannya. Dika lagi-lagi menjelaskan, jika ada yang khawatir dengan amalannya, maka ia termasuk orang-orang yang beriman. Maka tenanglah, karena surga untuk orang-orang sepertimu.

“Tapi... Kenapa kamu melakukan ini?” Lina akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi menggelayut di kepalanya.

“Karena aku mencintaimu, Lina.”


#WriteFromHome #Day14

Minggu, 05 April 2020

Myself

Jika saya hanya punya kesempatan untuk menulis satu buku di dalam hidup ini. Maka, buku itu adalah tentang diriku.

Bukannya apa, terkadang manusia terlalu muluk untuk mengakui jika ia ingin diakui. Ah, meski kisah hidupku entahlah akan dinikmati orang atau tidak. Tapi, aku akan membuat buku fiksi tentunya. Novel. Karena fiksi adalah jalan ninjaku. Jadi ya, cerita itu bisa dihiperbolakan tentu. Semoga saja tidak akan jadi semacam biografi.

Bagaimana menarasikannya? Mungkin aku akan memunculkan konflik di pembukaan seperti kebanyakan cerpen karanganku. Dengan usiaku yang baru menginjak 18 tahun, konflik utama akan fokus pada masa-masa remaja dengan segala masalah seputar bullying dan pencarian jati diri. Ah, rasanya aku ingin menuliskannya sekarang juga.

Aku pikir cukup sekian saja. Karena naskah pertamaku juga tidak jauh-jauh dari konteks remaja. Ditunggu ya.

#WriteFromHome #Day13

Sabtu, 04 April 2020

Ketika Pandemi Ini Berakhir

Jika Corona menghilang, maka aku akan...

Beberapa teman mengunggah rencana kegiatannya melalui percakapan di aplikasi pesan instan WhatsApp dengan teman mereka setelah virus ini raib. Tidak sedikit, teman-temanku juga mengungkapkan kegelisahannya di grup atau pesan pribadi kepadaku. Aku? Ah, tentu saja masih ada harap rancangan-rancangan gila pasca pandemi.

Jika Corona menghilang, maka aku akan segera membuat SIM untuk mobilitas perkuliahan tanpa indekos alias PP. Bukan apa, banyak faktor rasanya yang memaksa ibuku mengambil keputusan ini.

Pertama, tentu saja ekonomi. Sebentar lagi hari raya, maka sia-sia rasanya jika harus indekos. Apalagi, pembayaran sewa tetap harus berjalan meski jasadku di rumah. Maka, pada hari keenam karantina, aku dan ibuku menerobos jalur virus demi pamit secara langsung dan membawa semua barang-barang dari sana ke rumah.

Kedua, masih ekonomi. Uang sewa akan naik bulan April ini. Ketiga, ini dari diriku sendiri sebenarnya. Jiwa rumahanku memberontak hanya bisa bersua 1-2 pekan sekali. Sudah sejak beberapa bulan aku minta izin untuk membuat SIM, tapi surat izin membuat SIM dari orang tua tidak kunjung datang baik lisan maupun tulisan. Alhamdulillah, ada berkahnya pula pandemi ini. Apa yang kuharap terkabul. Yakni, PP dengan sepeda motor.

Masih banyak lagi impian setelahnya. Banyak agenda tertunda bahkan ditiadakan. Padahal, kesempatan emas berkembang semua di sini. Tetapi, aku berusaha tetap produktif meski #DiRumahAja. Mengikuti program #WriteFromHome salah satunya. Harap-harap, pandemi ini segera berakhir.

#WriteFromHome #Day12

Jumat, 03 April 2020

Hidup Itu Tentang Memilih atau Menolak

Mendapat tema ini, sejujurnya kita tidak pernah bisa benar-benar untuk selalu memilih atau selalu menolak. Maka jika ditanya, jawabanku tergantung. Mungkin terkesan diplomatis, tapi kita memang harus seperti itu.

Apa kita mau memilih untuk menyia-nyiakan hidup dengan bunuh diri? Apa kita mau menolak kesempatan berkarir yang lebih baik dari sebelumnya? Aku akan menjawab tidak. Tapi mungkin, kamu akan menjawab lain. Lagi-lagi, ini semua tentang “tergantung”.

Apakah situasi dan kondisinya mendukung? Apakah terlalu banyak sakit hati? Apakah akan mempengaruhi ekonomi? Dan yang paling penting menurutku, apakah hal yang kita pilih atau tolak diridhoi oleh Allah dan orang tua?

Pada dasarnya, manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Maka, wajar bila kita pernah salah dalam bertindak. Siraman kilau mentari pagi yang hangat bahkan sering kalah dengan gumpalan awan gelap. Maka berusahalah untuk tetap bersinar meskipun di sekeliling kita pekat. Hingga, makhluk langit masih bisa melihat kita tetap bercahaya.

Semoga Allah mengampuni kita.

#WriteFromHome #Day11

Kamis, 02 April 2020

Secukupnya Saja, Jangan Berlebihan

Aku menatap sekitar, mencoba menebak kisah-kisah mana yang dipilih untuk tema semacam ini. Masih dengan mengetik via aplikasi Microsoft Word di HP, ingatanku melesat pada kejadian banjir 01 Januari 2020. Sedikit banyak peristiwa “kemalangan” itu membuatku bersyukur di sisi lain.

Malam pergantian tahun kami biasa saja. Tidak ada perhelatan di rumah. Hanya Abi yang sesekali menyambangi rumah tetangga demi memenuhi undangan. Umi dan adik kecilku sudah larut dalam buai mimpi. Masih pukul sepuluh, kantukku belum memuncak karena aktivitas rebahan seharian.

Akhirnya aku bersama adikku membunuh waktu dengan menonton konser di TV yang membasahi beberapa lensa kamera. Petir sahut menyahut di luar rumah kami. Seakan-akan hujan dari Jakarta sedang mengarah ke rumahku.

Tidak lama masa berlalu, Abi berjinjit-jinjit memasuki rumah sembari menyerahkan dua jagung bakar utuh. Badannya kuyup dengan hujan yang tiba-tiba menderas. Kami saling tatap dan aku bergegas mengambilkan handuk untuknya.
Besoknya, hujan masih mengguyur. Baru berhenti sekitar pukul 6 pagi. Di luar, air masih biasa saja. Aku pikir, hari itu banjir seperti biasanya. Tapi hujan yang membasahi setiap jengkal daratan Jabodetabek memaksa keluarga kami untuk pertama kalinya mengungsi.

Morat-marit menggotong sandang dan beberapa pangan menuju pengungsian. Badanku basah sampai seleher. Ditambah, aku perlu menggendong salah satu adik kecilku. Kaki mungilnya sesekali terendam air banjir.

Dan disinilah letak syukurku. Bayangkan jika aku sudah memiliki laptop? Aku mengecek bawaanku di daerah yang lebih bersahabat. Bajuku sedikit basah karenanya. Tidak terpikir jika sampai membopong laptop. Pengungsian penuh yang memaksa kami berjalan lebih jauh.

Aku masih bersyukur mengetik dengan HP. Sekali pun menyulitkan, tapi rasanya akan lebih sulit jika mengungsikan laptop. Dan dengannya sekarang aku bersahabat. Sudah banyak karya yang terlahir dari rahim Microsoft Word versi android. Sesekali ada karya yang membawaku pada pengalaman berharga. Dari sanalah aku merasa cukup saat ini. Barangkali, memang bukan kapasitasku untuk memiliki laptop sekarang.

#WriteFromHome #Day10

Rabu, 01 April 2020

Tentang Sebuah Ego

Tersebut kisah seorang anak. Ia bermain kejar-kejaran dengan temannya. Mereka tenteram sampai kejenuhan mulai menghampiri. Sampailah mereka pada kenyataan untuk mencari alternatif lain. Terpekur setiap kali berjumpa sembari menendang-nendang gundukan tanah.

Akhirnya hasrat menendang mereka tersalurkan ketika menjumpai bola tak bertuan. Mereka “saling” merebut bola seperti kebanyakan. Ego untuk menjadi lebih baik sudah mulai tumbuh bahkan sedari mereka kecil. Bahkan tidak sering mereka terluka.

Saat masuk SD, anak itu lambat laun semakin paham arti persaingan. Berusaha menjadi juara kelas. Mendapatkan nilai terbaik. Meraih tepuk tangan guru dan teman-teman. Beberapa cerita berdarah terkadang masih terjadi yang dibalut sifat kekanak-kanakan tentunya. Kisah yang sama tampak terulang baik di SMP maupun SMA. Yang berubah hanya pola pemikiran yang mulai dewasa. Tapi ego itu tetap sama.

Semasa kuliah, mereka terpisah. Ego itu seketika sedikit mengendur. Tapi mereka tetap bersaing. Dengan cara yang lebih kreatif. Berusaha menjadi yang terbaik di kampusnya masing-masing. Hingga tubuh dewasa kekanak-kanakan ini sampai pada tahap bahwa ego tidak selalu berakhir buruk.

#WriteFromHome #Day9

Selasa, 31 Maret 2020

Mengapa Ini Semua Terjadi?

Semua terjadi atas dasar takdir Allah dan usaha kita. Semesta alam, bumi, bahkan kita yang sangat kecil ini. Ada seorang adik kelas hari itu. Ia tiba-tiba gelisah mengenai pilihan hidupnya. Dalam hal ini memilih jurusan di PTN.

Ingatanku terlempar pada masa-masa memilih jurusan. Sebagian orang yang mengenalku tentu tahu keinginan terbesarku yakni sastra Indonesia. Mimpi menjadi mahasiswa sastra Indonesia di selalu terbayang dalam kepala mungilku.

Tapi takdir berkata lain. Kebimbangan mengantarku untuk memilih Pendidikan Bahasa Arab pada pilihan kedua. Usahaku terpatahkan oleh-Nya. Menyesal? Tentu. Padahal di UNJ — kampusku saat ini — aku tahu bahwa ada jurusan sastra Indonesia di sini.

Aku berusaha menerima. Bagiku, toh aku masih bisa berkarya sekali pun tidak di sana. Meskipun, memiliki ilmu lebih di sana tentu akan lebih baik.

Kembali lagi dengan kisah adik kelasku. Bisa dibilang, ia merupakan satu di antara beberapa adik kelas semasa SMA yang sangat dekat denganku. Berbagai sesi curhat malam telah kami lalui. Bahkan sepotong cerita kami kuabadikan dalam naskah novelku. Tapi kemarin aku merasa gagal, setelah semua yang telah kujelaskan, ia masih ragu dengan pilihannya. Alasannya satu, ia ternyata selama ini memilih bukan karena suka atau bisa, tapi karena ingin mapan di masa depan.

Semua tentu mau itu. Lantas memilih jurusan yang dirasa “fleksibel”. Dan pada akhirnya terjebak dalam kenyataan bahwa “aku tidak bisa melewati ini”. Bukan hanya di jurusan fleksibel, jurusan “khusus” seperti yang aku jalani pun masih ada yang merasa demikian. Pada saat itu aku hanya bisa mengarahkan bahwa yang kau suka dan bisa jauh lebih baik dibanding mengikuti tren. Lihat bagaimana orang yang mengikuti arus? Tentu terbawa arus. Maka buatlah arus sendiri. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang terlanjur berada di arus yang salah?

Mungkin ini memang rencana Allah yang terbaik. Ini bentuk ujian darinya. Aku juga terkadang merasa tidak bisa lulus dari sini. Karena merasa bukan bidangku. Sekali pun menyukai bahasa, tapi yang ini tentu berbeda. Barangkali ini semua terjadi atas peran-Nya. Sang Maha Penguasa lagi Maha Penyayang. Hanya itu keyakinanku.

#WriteFromHome #Day8

Minggu, 29 Maret 2020

Festival Literasi 2019 #2

Aku hampir saja menganga jika hanya aku sendiri di ruangan tersebut. Aula yang dipilih benar-benar besar. Lebih banyak ruang kosong dibanding bangku-bangku yang disediakan. Tapi penyelenggara tidak kehabisan ide. Penataan kursi tentu saja dipusatkan dekat dengan panggung.

Sebelum masuk, aku sempat diberi sekotak snack. Isinya membuatku geleng-geleng kepala. Meski hanya terdiri dari tiga item seperti kotak snack kebanyakan, tapi aku benar-benar kekenyangan dibuatnya.

Tidak lama setelah snack tandas, MC mulai membuka acara. Aku mengedarkan pandang. Percaya atau tidak, kursi belum ada separuhnya yang terisi. Jumlahnya kurang dari seratus. Ini lebih semacam talkshow privat dibandingkan talkshow umum. Praktisi yang kuingat hanya kang Maman saat itu. Padahal, ia hanya tampil sebagai moderator. Tapi caranya bertutur begitu indah. Tidak hanya indah, tapi juga berwawasan luas.

Talkshow saat itu sangat berkesan bagiku. Karena, menjadi kali pertamaku bertemu “artis”. Saat itu, belum berani nyaliku untuk berswafoto di akhir acara. Hanya melihat kebahagiaan penggemar setia mereka yang berbondong-bondong mengajak foto bersama idolanya.

Di pintu keluar, aku diberi kenang-kenangan buku kang Maman oleh panitia acara. Berharga sekali bagiku. Aku juga menyempatkan mampir ke pameran buku dengan beragam model diskon. Ada yang diskon 10% bahkan seharga 10 ribu. Tidak lupa kucomot salah satu buku agar tidak menyesal jauh-jauh ke mari.

Aku ingin mengulang lagi cerita itu. Terlebih bersama seseorang. Acara ini dihadiri tanpa seorang teman lagi di sampingku. Tidak ada yang bisa. Apalagi, keuntungan yang didapat begitu besar. Sungguh jahat jika aku tidak membagi kebahagiaan ini.

#WriteFromHome #Day6

Sabtu, 28 Maret 2020

Festival Literasi 2019 #1

Belum genap sebulan sejak terakhir kali ke acara seputar buku, kali ini aku mengunjungi Festival Literasi 2019. Yang satu ini mungkin tidak sefamiliar IIBF, tapi pengalaman yang didapat di sini tidak kalah menyenangkan.

Sebelum hari-H acara, aku sempat menimbang-nimbang untuk ikut atau tidak. Bukannya apa, tanggal pelaksanaan rangkaian acara festival tidak ada yang jatuh pada hari libur, maka aku harus memikirkannya matang-matang. Beruntung, ada satu hari di mana aku hanya memenuhi satu mata kuliah.

Hari itu Rabu. Mentari sudah menyengat padahal masih pukul 10 kala itu. Di festival ini, aku berniat untuk turut menghadiri talkshow dengan pembicara para praktisi literasi. Acaranya pukul 1 siang, maka tanpa menunggu waktu, aku segera meluncur dari halte UNJ menuju halte RSPAD. Kali ini, aku berhasil sampai tanpa tersesat yang berarti. Sepertinya aku mulai bersahabat dengan moda transportasi ini. Dari halte tujuan, aku perlu berjalan sedikit menuju gedung Kementerian Keuangan. Ya, yang menyelenggarakan FesLit ini dari lembaga tersebut. Aku juga tidak menyangka akan hal itu.

Hawa panas sepanjang perjalanan di luar tergantikan dengan hempasan AC yang berebutan memenuhi sekelilingku. Aku dihadapkan oleh pemandangan ribuan buku. Bahkan, ada sudut khusus yang menyimpan komik dan beragam jenis mainan edukatif.

Masuk sedikit, ada ruang kosong tempat orang-orang mengantre menuju ruangan lain di gedung ini. Sepertinya mereka ingin menghadiri talkshow juga. Tebak 'ku asal. Turut masuk ke barisan. Beberapa orang di depan yang sedari tadi memegang handphone menunjukkan halaman yang terdapat barcode-nya. Aku hampir lupa. Segera mengeluarkan handphone dan mencari bukti pendaftaran FesLit sepekan yang lalu.
...
Lanjut besok ya, biar enggak kepanjangan 😅
#WriteFromHome #Day5

Jumat, 27 Maret 2020

IIBF 2019

Aku seperti burung yang baru saja dilepas dari sangkarnya. Tidak pernah menelusuri Jakarta sebelum lulus SMA, dan sekarang diberi kesempatan untuk menghadiri pameran buku terbesar se-Indonesia. Dan ternyata, 08 September 2019 menjadi hari pertamaku dalam menjelajah pameran buku yang lain di kemudian hari.

Jauh sebelum tanggal tersebut, aku merencanakan untuk pergi ke IIBF pada tanggal 07. Tidak lain dan tidak bukan agar aku bisa di rumah pada tanggal 08. Namun, aku benar-benar tumbang sehingga terpaksa menghabiskan waktu tiduran di kosan hampir seharian penuh.

Aku sedikit ketar-ketir. Mengingat beberapa pelanggan mempercayakan pesanan mereka pada jasa titip buku yang memang ditawarkan di media sosialku. Tapi, Alhamdulillah, masih diberi kesehatan pada hari terakhir IIBF 2019.

Hari-H, jujur aku tidak yakin benar cara bisa sampai ke sana. Moda transportasi yang dipilih yakni Transjakarta, karena merasa bahwa ia akan membawaku ke setiap jengkal Jakarta. Jiwa penjelajah ini sudah mencari-cari jalan seminggu yang lalu. Semuanya berhenti di halte JCC Senayan. Tapi penjelajah yang hebat katanya selalu bisa tersesat. Dan saat itu aku sempat beberapa kali salah naik bus atau melewati halte untuk transit.

Aku yang berangkat cukup pagi, baru sampai di lokasi sekitar jam 9. Di luar gedung, terdapat semacam spanduk yang digantung indah di langit-langit lobby. Aksen kuning dimana-mana. Beragam orang dari yang penggila buku sampai sekadar menghabiskan waktu bersama teman-temannya berkumpul jadi satu di JCC Senayan yang mulai penuh sesak oleh pengunjung.

Spanduk yang digantung di lobby

Saat masuk, senyum terkembang selalu kutunjukkan pada setiap inci buku-buku. Mereka seakan berkata: "Hai, Firda! Senang bisa melihatmu di sini. Ayo, beli aku!!". Tidak berhenti sampai di situ, aku juga mencoba peruntungan di beberapa stand yang menawarkan hadiah. Walau pun akhirnya gagal. Baiknya, ada stand yang memberikan pembatas buku cuma-cuma.

Jika tadi aku bilang ada yang menitipkan buku padaku, maka maksudnya adalah mereka akan membayar jasaku karena sudah mau jauh-jauh mencarikan buku incaran mereka. Dan aku memilih zona kalap karena menjadi area favorit saking murahnya. Oh iya, zona kalap ini isinya macam-macam, ada novel, komik, buku-buku berseri, buku terjemahan juga ada, dan banyak jenis buku lainnya. Harganya juga di bawah 50 ribu rata-rata. Dijamin kantong aman. Di zona ini, aku menghabiskan waktu satu jam lebih untuk memburu buku-buku pesanan.

Tampak depan Zona Kalap

Setelah mendapatkan buku yang sesuai, aku mampir ke stand yang tampak menjual beragam ukuran Al-Qur'an. Di stand tersebut, disisihkan uangku untuk membeli Al-Qur'an terjemah yang masih sedikit di rumah. Ukuran sedang dengan warna yang dominan biru — warna favorit. Indah.

Setelah selesai dengan semua hajat, aku mulai mengabadikan momen keramaian pengunjung dan kebahagiaanku di photo booth. Oh iya, diri ini ke IIBF sendiri. Mungkin terbilang nekad, apalagi untukku yang belum kenal daerah Jakarta. Tapi jiwa penjelajah jalanan lagi-lagi kalah dengan jiwa anak rumahan.

Fotoku di photo booth

Pada akhirnya, euforia kesenangan masih terbawa sampai ke kosan. Aku hampir tidak percaya dengan petualangan hari ini. Teramat berkesan. Apalagi, untukku yang sejak dulu terkurung dalam sangkar yang disebut rumah. Kebebasan mencicipi jendela dunia adalah definisi untuk menggambarkan kisah hari itu.

#WriteFromHome #Day4

Kamis, 26 Maret 2020

Michelle & Rifqi

Judul: IPA & IPS
Penulis: Chacaii_
Penerbit: Coconut Books
Cetakan: kelima, Mei 2018
Tebal: 330 halaman
Ukuran: 13 × 19 cm
ISBN: 978-602-6940-12-4

Katanya IPA dan IPS memang tidak pernah bersatu. Selalu ada kata seteru. Bahkan bisa menghancurkan pertemanan dengan sebab yang lalu. Tapi di antara semua itu. Yang paling lucu tetaplah kisah cinta antara dua kubu.

Ini cerita tentang Michelle dan Rifqy. Anak pindahan dari Jakarta itu kini masuk kelas 12 IPA 3 di sekolah barunya. Rifky (12 IPS 2) selaku ketua OSIS pun segera mendapat kabar tersebut saat istirahat. Tapi dia biasa saja sesaat sebelum bertemu langsung dengan Michelle.

Novel pertama dari penulis besutan wattpad ini secara keseluruhan mewakili konflik IPA&IPS selama ini. Detailnya cukup baik. Penggambaran suasananya juga menarik. Diksi yang dipilih pun dekat dengan remaja.

Namun, saking mewakili konflik IPA&IPS, alur cerita tampak membosankan. Beberapa bagian cerita juga bisa ditebak kelanjutannya. Tokoh yang disuguhkan juga terlalu banyak. Sehingga, pembaca mungkin bisa kesulitan membedakan tokoh karena tokoh pendukung kurang memiliki ciri khas.

Menurutku pribadi, novel ini aku rekomendasikan untuk teman-teman SMA yang ingin meraih friendship goal mereka. Dari novel karya Chacaii_, aku mendapatkan beberapa konflik yang bisa jadi referensi untuk calon novel pertamaku.

Oh iya, awal beli novel ini sebenarnya ya karena itu. Riset mengenai ceritaku di pasaran. Tapi belum ada satu pun cerita yang benar-benar mirip dengan ceritaku, akhirnya aku membeli novel “IPA & IPS” yang menurutku cukup dekat dengan rancangan ceritaku.

Novel ini sebenarnya sudah kubeli sejak Juli tahun lalu, tapi baru selesai kutamatkan Agustus. Dan, baru sempat dibuat resensinya sekarang-sekarang ini. Lantas, diunggah di blog sekarang banget. Jangan bosen-bosen sama konten-konten di blog ini ya.. 😁

#WriteFromHome #Day3

Rabu, 25 Maret 2020

Kisah Dibalik Buku “Itu Cuma Mitos? Jilid 3”

Cerita kompetisi untuk mendapatkan gelar Penulis Terbaik Ellunar 2019 terus berlanjut. Aku lolos babak 250 besar dan siap bersaing untuk meraih predikat 100 besar dan seterusnya. Kali ini temanya mitos dengan tantangan harus menyertakan kalimat tanya di awal dan akhir cerita.

Aku tidak habis pikir dengan tema mitos. Belum pernah sekali pun aku menulis dengan tema ini. Selain memerlukan riset yang panjang, tidak pernah terbayang olehku akan membuat konflik dan penyelesaian yang seperti apa.

Lantas, aku langsung riset ke berbagai cerita tentang mitos. Aku sempat terpikir untuk mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan pena. Tapi tidak ada mitos yang unik tentang itu. Maka, aku mencoba menciptakan mitosku sendiri dengan judul naskah “Quill Ajaib”.

Cerita dimulai dengan langsung menyuguhkan konflik antara dua sastrawan ternama abad ke-17 atau 18 di Eropa. Mereka memperdebatkan kehadiran sosok-sosok yang baru saja ditulis. Seakan-akan, apa yang ia tuliskan malam itu menjadi nyata keesokan harinya.

Untuk kamu yang tertarik dengan kisah “Quill Ajaib” dan cerita-cerita menarik lainnya tentang mitos. Yuk, pesan segera! Kamu bisa hubungi 088808595228 di WhatsApp atau @firdasmanad di Instagram

#WriteFromHome #Day2

Selasa, 24 Maret 2020

Kisah Dibalik Buku "Balonku, Kupu-Kupumu, dan Keretanya Jilid 2"

Semua hanya iseng-iseng belaka jika boleh jujur. Saat itu, teman dekatku sibuk mengurus administrasi pendaftaran SNMPTN. Sementara aku yang tidak lolos hanya membunuh waktu dengan menenggelamkan diri dalam unggahan-unggahan di Instagram.

Singkat cerita, aku menemukan info lomba dengan tajuk “Pemilihan Penulis Terbaik Ellunar 2019 Kategori Cerita Mini” dan berhasil lolos sampai peringkat 250 terbaik. Buku kami yang berjudul “Balonku, Kupu-kupumu, dan Keretanya Jilid” merupakan kumpulan cerita mini hasil dari karya orang-orang yang bisa lolos ke babak 250 besar.

Di jilid 2, cerita miniku yang berjudul “Kereta Pembawa Takdir” termuat di antara 49 kisah tentang balon, kereta, dan kupu-kupu lainnya. Jika dikenang lagi, tantangan yang diberikan Ellunar Publisher tidaklah mudah. Kami diharuskan menulis cerita dengan tema “Life Story” maksimal 5000 karakter dengan menyertakan tiga kata: balon, kupu-kupu, kereta.

Riset yang dilakukan cukup panjang hampir seminggu dengan jeda kegiatan-kegiatan sekolah. Namun, cerita tersebut berhasil diselesaikan tidak kurang dari dua jam tanpa jeda. Menghasilkan naskah yang belum memiliki judul.

Saking bingungnya, aku sampai menanyakan ke beberapa rekan tentang judul yang tepat sekaligus meminta kritik dan saran atas karyaku. Dan setelah berbagai pertimbangan aku memilih “Kereta Pembawa Takdir” sebagai judul naskahku.

Cerita mini tersebut menceritakan tentang tokoh utama yang memiliki trauma terhadap kereta dan balon karena adiknya dibawa pergi oleh ayah tirinya tanpa alasan yang jelas. Tahun-tahun berlalu dengan tokoh utama dibesarkan oleh sebuah keluarga yang mau mengadopsinya. Hingga sebuah konflik memaksanya untuk melawan trauma tersebut.

Untuk kamu yang tertarik dengan kisah “Kereta Pembawa Takdir” dan cerita-cerita menarik lainnya tentang balon, kupu-kupu, atau kereta. Yuk, pesan segera! Kamu bisa hubungi 088808595228 di WhatsApp atau @firdasmanad di Instagram

#WriteFromHome #Day1

Jumat, 12 Oktober 2018

Blurb (sinopsis) "Sepaket Kisah untuk Diriku yang Baru"

Di setiap perjalanan hidup, kita tentu memiliki segudang kisah yang mungkin hanya kita yang mengetahui atau sebagian orang saja yang kita beri tahu. Mulai dari kisah bahagia, kesedihan, haru, canda tawa, hingga kedukaan. Di setiap pergantian usia, pasti kita memiliki satu paket kisah lama yang akan disimpan untuk di kemudian hari dapat dikenang, dan satu paket kisah baru yang masih terbungkus rapi oleh takdir-Nya.

Kisah yang baru inilah yang menjadi rahasia setiap manusia, takdir mungkin boleh jadi sudah menanti kita. Namun, bukankah takdir dapat diubah sesuai dengan seberapa besar usaha manusia? Maka, manusia kerap kali berusaha di dunia ini untuk mengejar cintanya, menyelesaikan ujiannya, dan menghabiskan usianya yang entah dengan kebermanfaatankah? Atau bisa jadi dengan kesia-siaan. Itu semua bergantung pada bagaimana kita menyikapi dan memiliki mindset untuk hidup ini.

Di dalam buku ini, terdapat berbagai cerita mengenai sepaket kisah baru dari setiap penulis yang tidak lain mencakup kisah cinta, ujian, dan usia. Di mana ketiga hal tersebut telah menjadi satu kesatuan dalam hidup ini. Di dalam buku ini pula kamu akan mendapatkan berbagai hikmah dari setiap kisah yang mungkin saja kisahnya memiliki kesamaan dengan kehidupan kita.

Selamat mengarungi sepaket kisah yang baru!

Info pemesanan:
Id line        : @firda_abdllh
Line @       : @qgt4149r
WhatsApp: 088808595228
Ig pribadi : @firda_abdllh
Ig bisnis    : @firdasmanad

Cek unggahan sebelumnya untuk blurb (sinosis) "Karena Tuhan Tidak Tidur"

Minggu, 07 Oktober 2018

Blurb (sinopsis) "Karena Tuhan Tidak Tidur"

Setiap kita memiliki ranah tersendiri untuk berjuang.  Ada beragam, ada yang berjuang menahan rasa sakit yang dilimpahkan sebagai ujian. Ada yang berjuang berpeluh keringat demi menafkahi dan melindungi keluarganya. Ada yang berjuang dengan giatnya belajar agar bisa membanggakan keluarga dan ribuan ranah perjuangan yang sampai hari ini masih terus bergulir.

Memulai cerita dari sebuah postingan hari ke hari di bulan Ramadhan melalui @ramadhanbercerita. Perjuangan-perjuangan itu tampak. Ternyata ada banyak cerita mengagumkan yang selama ini tersimpan. Layaknya gunung es, perjuangan di dalam cerita-cerita yang dikemas itu punya perasaan yang jauh lebih dalam, punya perjuangan lebih panjang.

Untuk itulah mubazir rasanya jika pertemuan-pertemuan orang-orang yang bertumbuh tidak melahirkan karya.  Hampa rasanya jika cerita-cerita dan pengalaman hidup yang layak dibagikan hanya terekam di kepala. Karena kehidupan ini sejatinya tidak kekurangan orang baik. Namun kehilangan orang-orang baik yang memilih berbicara.. Untuk itulah tulisan-tulisan ini dibukukan.  Untuk membuka lembar-lembar baru agar satu sama lain bisa belajar mengambil hikmahnya. Juga untuk meninggalkan jejak apabila satu per satu dari kami “kembali” pada nantinya. Dengan penuh harap agar pahala tetap mengalir dari setiap tetes tinta yang dituangkan.

Info pemesanan:
Id line       : @firda_abdllh
Line@       : @qgt4149r
WhatsApp: 088808595228
Ig pribadi : @firda_abdllh
Ig bisnis    : @firdasmanad

Cek unggahan selanjutnya untuk blurb (sinosis) "Sepaket Kisah untuk Diriku yang Baru"