Cari Karya

Minggu, 03 Juni 2018

Ramadhan Bersama Manda #17

Nuzulul Qur'an


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Maaf baru ngepos, blognya sempet error tadi.


Saat Dzuhur, aku pamit ke kamar. Rizki bersiap ke kamar mandi, Layla memilih bermain dengan adik kecil kami. Aku meminta maaf, bilang ada kepentingan. Al-Qur’anku semakin lama hanya tergeletak tak tersentuh. Nanti malam merupakan malam yang istimewa. “Aku tak boleh menyia-nyiakannya.” Teguhku dalam hati.

Lepas isya', aku membuka Al-Qur'an-ku. Bacaanku tertinggal beberapa juz dari yang seharusnya ditargetkan. Ayat demi ayat mulai melantun indah memenuhi kamar. Dengung suaranya juga melewati celah-celah dinding. Bunyi jangkrik berhenti seketika saat aku membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, seperti ikut menyimak.

Pukul 21:00, mataku belum sayu, masih segar, seakan-akan membaca Al-Qur’an tak membuatku lelah, malah menambah kekuatan untuk membaca ayat-ayat berikutnya. Maka, aku melanjutkan bacaanku. Suara gemerencik terdengar di luar jendela kamar, pertanda malam akan dibungkus hujan.

Hujan di luar semakin deras. Kini, suaraku bersatu padu dengan titik-titik air yang berjatuhan di luar sana. Walau terdengar lebih bising, aku merasa lebih sunyi. Penduduk di rumah ini sepertinya sudah berehat, kecuali aku yang masih menguntai ayat per ayat Al-Qur’an.

Esok hari, aku mengulangi rutinitas yang sama dengan ayat selanjutnya. Setelah matahari terbit menghangatkan bumi, aku memulai membaca Al-Qur’an. Entah bagaimana caranya, adik bungsuku dengan langkah sedikit tertatih-tatih menghampiriku, ikut bergabung. Aku memangkunya.

Sesekali dia menunjuk-nunjuk ayat Al-Qur’an, kadang dia juga menggeliat minta turun dari pangkuan. Tak lama, dia minta dipangku lagi. Begitu terus sampai Habib mengajak Fathan — adik bungsuku, bermain di luar. Fathan berjingkrak kesenangan, mengejar kakaknya sampai sempat lunglai saat berjalan.

Aku kembali fokus meneruskan bacaan. Godaan datang lagi, kali ini Layla.

“Kak, main lagi yuk, kayak kemaren.”
“Nanti dulu ya, La. 'Kan aku udah janji, besok Minggu kita ke mal bareng. Eh, gimana kalo sekalian beli baju lebaran? Hmm?” aku menggodanya, memancing supaya dia mau dan cepat-cepat pergi.

Layla mengangguk tanda setuju. Aku kembali menyambung tilawahku sampai merasa letih. Istirahat sebentar, lalu lanjut lagi. Begitu terus sampai semburat jingga mulai terlihat di ufuk barat. Aku mampu mengejar ketertinggalanku selama satu hari satu malam.

Terlepas dari kapan diturunkannya Al-Qur’an. Entah itu tanggal 17 Ramadhan atau sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Sepatutnya yang terpenting adalah menadaburi atau merenungkan Al-Qur’an, sehingga bisa memahami, mengambil ibrah dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya.

Malamnya, aku membuka aplikasi Instagram. Jujur saja, selama bulan Ramadhan, baru kali ini aku membuka Instagram. Berbagai posting-an dari akun wisata alam tersaji di depan mata. Mereka menyodorkan destinasi favoritku selama ini. Melihatnya saja mampu menyejukkan mata dan hati yang gundah. Mungkin, suatu hari nanti...

Bersambung...


Sekian. Sekali lagi, maaf telat. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar