Cari Karya

Selasa, 12 Juni 2018

Ramadhan Bersama Manda #27

Membumikan Al-Quran


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hai kamu πŸ‘‹ iya kamu, selamat membaca ya πŸ“–πŸ˜‚


Sampai di rumah. Ayah mengingatkan perihal agenda nanti malam. Aku hampir terlupa. Perasaan bahagia meletup-letup dari dalam jiwaku. Setidaknya aku bisa merasakan hal mirip yang sejak kemarin ayah tak izinkan.

Aku baru selesai shalat isya' saat ayah menyuruh aku, Rizki, dan Layla bersiap untuk acara khatam Al-Qur’an bersama. Aku bergegas ke kamar dan mencari gamis biru gelap yang merupakan dresscode acara itu. Selesai, aku keluar kamar. Kuintip Layla dari balik pintunya yang sedikit terbuka. Aku tertawa pelan melihat tingkah Layla yang sibuk menggunakan jilbab segiempat.

“Layla, cepetan, yang lain udah pada siap tuh.” Ujarku.
“Iya sabar. Udah kakak ke sana dulu.” Balasnya mengusirku pergi.

Aku melenggang meninggalkan kamarnya. Tak lama, dia keluar dengan mengenakan kerudung langsung. Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Kami jalan ke masjid tak lama kemudian.

Di masjid, sudah banyak anak-anak dan remaja seusia kami berkumpul. Mereka membawa serta Al-Qur’an masing-masing. Aku langsung memisahkan diri, berkumpul ke kumpulan remaja perempuan. Ayah selaku ketua DKM menenangkan kegaduhan anak-anak, ia meminta kami untuk membentuk saf-saf agar acara bisa segera dimulai.

Jauh sebelum acara, peserta diminta untuk menyelesaikan tilawahnya sampai juz 29. Aku? Setelah tadi siang ayah memberi tahu aku langsung kebut ketertinggalanku. Di malam ke-27 yang sekali lagi bisa jadi merupakan lailatul qadar, aku dan anak-anak yang lain membumikan Al-Quran. Kami terus melantunkan ayat demi ayat. Sampai masing-masing dari kami mengkhatamkan Al-Qur’an.

Acara ditutup dengan seremonial seperti wisuda Akbar. Diakhiri dengan do'a lalu foto bersama. Kami pulang ke rumah masing-masing saat hampir tengah malam. Walau pada dasarnya aku tidak melakukan i'tikaf, kegiatan tadi seperti membayar i’tikaf yang tidak dibolehkan. Sederhana memang, tapi aku belum pernah melihat kegiatan semacam ini di tempat lain. Ingin sekali tahun depan ada kegiatan semacam ini.

“Pa, papa dapet ide darimana acara kayak gini?” aku bertanya saat perjalanan pulang ke rumah.

“Dulu, di kampung papa kegiatan kayak gini udah jadi agenda tahunan. Nah, daripada masjid sepi karena sedikit juga yang i’tikaf, papa coba adain ini, sekaligus biar kamu seneng.” Papa menjawab diikuti jawilan di pipi kananku.

Tak sempat aku mengelak. Aku hanya manggut-manggut mendengar penuturannya.

“Berarti tahun depan adain ini lagi, pa?”

“Insyallah. Niatnya, papa juga mau buat spanduk di depan perumahan, biar makin banyak yang ikut.” Ayah menjawab mantap.

Aku tersenyum sumringah, bilang siap membantu. Akan kuajak pula anak osis dan rohis, barangkali mereka bisa ikut berpartisipasi. Pikiranku melesat jauh ke masa itu. Tak sabarnya menunggu momen itu terulang kembali.

Sampai di rumah, aku mengecek handphone-ku. “Barangkali ada pesan penting.” Pikirku. Rupanya, ada pesan instan dari kak Arif. Bibirku membentuk lekukan ke atas seperti bulan sabit di malam itu.
“Iya, kak. Aku bisa tanggal segitu.”

Bersambung...


Pendek ya? πŸ™ˆSekian. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar